IHSG 24 November diluar dugaan tergerus cukup dalam, ditutup pada level 5,107 atau melemah sebesar 2.00%. Sentimen kenaikan suku bunga The Fed dan spekulasi hasil pertemuan OPEC masih menjadi katalis terjadinya aksi jual yang cukup besar pada perdagangan kemarin. Asing masih membukukan jual bersih 406.08 Milliar dari total transaksi Pasar sebesar 8.534 Trilliun. Hari
ini kami memprediksikan IHSG akan melanjutkan pelemahannya dalam range resistance 5,200 dan
support 5,040. Tetap disiplin dalam trading serta waspada pada aksi
profit taking untuk kondisi market pada hari ini.
------------------------
------------------------
Global
&
&
Commodity Indices
------------------------
HIGHLIGHT NEWS
1. Proyeksi Moodys Emiten Komoditas & Infrastruktur RI Pada 2017.
Bisnis.com, JAKARTA--Lembaga pemeringkat internasional Moody's Investors Service memproyeksi kinerja emiten sektor komoditas dan infrastruktur di Indonesia paling gemilang pada 2017.
Moody's memerkirakan pertumbuhan ekonomi pada tahun depan mencapai 5,2% dan mendorong kenaikan laba bersih korporasi yang melompat 2%-6%. Pertumbuhan ekonomi diproyeksi akan mencapai 5,5% pada tahun depan didorong oleh digenjotnya pembangunan infrastruktur pemerintah.
Brian Grieser, Vice President Senior Analyst Corporate Finance Group Moody's Investors Service Singapore Pte., Ltd., memerkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menjadi pendorong lonjakan pendapatan emiten pada 2017. "Agenda reformasi pemerintah dan pengucuran investasi infrastruktur mendorong potensi lonjakan pada sektor konstruksi, bahan bangunan, properti, dan sektor alat berat," katanya dalam siaran pers, Kamis (24/11/2016).
Selain itu, harga komoditas yang terus meningkat menjelang 2017, diproyeksi menguntungkan emiten sektor minyak dan gas, minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO), dan batu bara. Kesimpulan itu tertuang dalam 'Outlook korporoasi sektor non-keuangan di Indonesia 2017'.
Menurut dia, sektor komoditas masih menjadi tantangan dalam jangka menengah. Namun, komoditas ini akan memberikan keuntungan pada 2017 setelah harga tahun ini telah menyentuh level terendah. Sementara itu, Moody's memerkirakan pencapaian pra-penjualan (marketing sales) emiten properti pada 2017 merosot. Namun, marketing sales akan menjadi penopang pendapatan emiten properti di Tanah Air.
Ekspektasi Moody's juga tumbuh pada pembelian konsumen atas sepeda motor, mobil, peralatan elektronik besar, dan elektronik kecil. Sektor tersebut diproyeksi rebound, sehingga mendorong kinerja emiten pada 2017. Akhirnya, Moody's menilai profil likuiditas korporasi di Indonesia masih kuat bila dibandingkan dengan negara Asia lainnya. Meskipun, pada 2017 terbilang lebih lemah dari tahun-tahun sebelumnya.
Risiko refinancing untuk imbal hasil obligasi tinggi pada 2017 dapat dikelola dengan baik. Namun, akan kembali meningkat menjelang periode 2018. "Sejumlah emiten properti akan memiliki utang jatuh tempo pada 2017 pada saat sektor tersebut tertekan pada tahun ini," kata dia.(Bisnis.com)
Bisnis.com, JAKARTA--Lembaga pemeringkat internasional Moody's Investors Service memproyeksi kinerja emiten sektor komoditas dan infrastruktur di Indonesia paling gemilang pada 2017.
Moody's memerkirakan pertumbuhan ekonomi pada tahun depan mencapai 5,2% dan mendorong kenaikan laba bersih korporasi yang melompat 2%-6%. Pertumbuhan ekonomi diproyeksi akan mencapai 5,5% pada tahun depan didorong oleh digenjotnya pembangunan infrastruktur pemerintah.
Brian Grieser, Vice President Senior Analyst Corporate Finance Group Moody's Investors Service Singapore Pte., Ltd., memerkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menjadi pendorong lonjakan pendapatan emiten pada 2017. "Agenda reformasi pemerintah dan pengucuran investasi infrastruktur mendorong potensi lonjakan pada sektor konstruksi, bahan bangunan, properti, dan sektor alat berat," katanya dalam siaran pers, Kamis (24/11/2016).
Selain itu, harga komoditas yang terus meningkat menjelang 2017, diproyeksi menguntungkan emiten sektor minyak dan gas, minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO), dan batu bara. Kesimpulan itu tertuang dalam 'Outlook korporoasi sektor non-keuangan di Indonesia 2017'.
Menurut dia, sektor komoditas masih menjadi tantangan dalam jangka menengah. Namun, komoditas ini akan memberikan keuntungan pada 2017 setelah harga tahun ini telah menyentuh level terendah. Sementara itu, Moody's memerkirakan pencapaian pra-penjualan (marketing sales) emiten properti pada 2017 merosot. Namun, marketing sales akan menjadi penopang pendapatan emiten properti di Tanah Air.
Ekspektasi Moody's juga tumbuh pada pembelian konsumen atas sepeda motor, mobil, peralatan elektronik besar, dan elektronik kecil. Sektor tersebut diproyeksi rebound, sehingga mendorong kinerja emiten pada 2017. Akhirnya, Moody's menilai profil likuiditas korporasi di Indonesia masih kuat bila dibandingkan dengan negara Asia lainnya. Meskipun, pada 2017 terbilang lebih lemah dari tahun-tahun sebelumnya.
Risiko refinancing untuk imbal hasil obligasi tinggi pada 2017 dapat dikelola dengan baik. Namun, akan kembali meningkat menjelang periode 2018. "Sejumlah emiten properti akan memiliki utang jatuh tempo pada 2017 pada saat sektor tersebut tertekan pada tahun ini," kata dia.(Bisnis.com)
2. Proyeksi Moodys Indika Energy Terima Berkah Batu Bara.
Bisnis.com, JAKARTA—Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Investors Service memerkirakan PT Indika Energy Tbk. (INDY) akan menerima manfaat terbesar dari lonjakan harga batu bara.
Saat berkunjung ke kantor redaksi Bisnis Indonesia, Direktur Utama PT Indika Energy Tbk., Muhammad Arsjad Rasjid Prabu Mangkuningkrat, mengatakan proyeksi peningkatan harga batu bara oleh Moody's akan menguntungkan perseroan adalah sebuah berkah.
"Saya mau lihat apa yang kami jaga, kalau harga lebih tinggi, itu bonus," katanya, Kamis (24/11/2016).
Manajemen emiten bersandi saham INDY tersebut berencana untuk mengakuisisi perusahaan tambang seiring terus melonjaknya harga batu bara dunia. Rencana akuisisi akan dilakukan bila perusahaan tersebut memiliki prospek positif bagi perseroan.
Pada 2017, perseroan juga membidik target konservatif dengan produksi batu bara sama dengan tahun ini, atau sedikit lebih tinggi sebesar 32-33 juta ton. Sedangkan, belanja modal yang dianggarkan juga relatif lebih sama dengan tahun ini US$40,7 juta.
3. MEDC Right Issue US$150 Juta Di Quartal I 2017. JAKARTA. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) melanjutkan rencana penambahan modal tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) di tahun depan. Hilmi Panigoro, Direktur Utama MEDC mengatakan, untuk tahap awal, perseroan membidik rights issue sebesar US$ 150 juta atau sekitar Rp 2 triliun.
Ia menargetkan, rights issue itu baru akan dilakukan pada akhir Kuartal I 2017. Sebelumnya perseroan sudah mendapatkan restu dari pemegang saham untuk menerbitkan maksimal 1,3 miliar saham atau 27% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh.
Rights issue ini menjadi strategi MEDC untuk pembayaran utang dan memperkuat struktur permodalan. Sebelumnya, MEDC sempat berencana membidik dana rights issue hingga Rp 4,65 triliun.
"Rights issue US$ 150 juta kemungkinan dilakukan pada akhir Kuartal I tahun depan. Pelaksanaannya memang bertahap, nanti besarannya akan dilihat sesuai kebutuhannya," ujarnya saat ditemui dalam acara Kompas CEO Forum 2017, Kamis (24/11).
Saat ini sebesar 50,7% saham MEDC dimiliki oleh Encore Energy Pte. Ltd. Lalu, 20,73% oleh Credit Suisse AG, dan sebesar 9,8% dikempit PT Prudential Life Insurance. PT Medco Duta menguasai 0,25% dan PT Multifabrindo Gemilang 0,06%. Kepemilikan saham masyarakat mencapai 16,49%.
"Sampai saat ini komposisi pemegang sahamnya masih belum berubah. Mungkin bulan Maret tahun depan saat rights issue akan ada perubahan karena ada efek dilusi, tergantung dari penyerapan rights issue," imbuhnya. Nantinya, MEDC akan menunjuk perusahaan sekuritas lokal sebagai penjamin emisi efek. Perseroan juga belum menentukan standby buyer untuk aksi korporasi itu.
Selain rights issue, MEDC juga mempertimbangkan untuk mencari dana dari pasar obligasi. Sebelumnya, MEDC meraih dana Rp 1,25 triliun dari penerbitan obligasi berkelanjutan II tahap I. Jumlah itu lebih rendah dibanding target semula yang mencapai Rp 1,5 triliun.
Obligasi senilai Rp 1,25 triliun ini terdiri dari dua seri. Rinciannya, Seri A berjangka waktu tiga tahun bernilai emisi Rp 327 miliar, dan tingkat bunga tetap sebesar 10,8% per tahun. Seri B berjangka waktu lima tahun bernilai emisi Rp 923 miliar, dan tingkat bunga tetap sebesar 11,3% per tahun. MEDC menggunakan dana obligasi ini untuk membayar utang dan mendanai belanja modal. Saham MEDC turun 3,68% ke level Rp 1.310 per saham pada perdagangan Kamis (24/11).
Ia menargetkan, rights issue itu baru akan dilakukan pada akhir Kuartal I 2017. Sebelumnya perseroan sudah mendapatkan restu dari pemegang saham untuk menerbitkan maksimal 1,3 miliar saham atau 27% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh.
Rights issue ini menjadi strategi MEDC untuk pembayaran utang dan memperkuat struktur permodalan. Sebelumnya, MEDC sempat berencana membidik dana rights issue hingga Rp 4,65 triliun.
"Rights issue US$ 150 juta kemungkinan dilakukan pada akhir Kuartal I tahun depan. Pelaksanaannya memang bertahap, nanti besarannya akan dilihat sesuai kebutuhannya," ujarnya saat ditemui dalam acara Kompas CEO Forum 2017, Kamis (24/11).
Saat ini sebesar 50,7% saham MEDC dimiliki oleh Encore Energy Pte. Ltd. Lalu, 20,73% oleh Credit Suisse AG, dan sebesar 9,8% dikempit PT Prudential Life Insurance. PT Medco Duta menguasai 0,25% dan PT Multifabrindo Gemilang 0,06%. Kepemilikan saham masyarakat mencapai 16,49%.
"Sampai saat ini komposisi pemegang sahamnya masih belum berubah. Mungkin bulan Maret tahun depan saat rights issue akan ada perubahan karena ada efek dilusi, tergantung dari penyerapan rights issue," imbuhnya. Nantinya, MEDC akan menunjuk perusahaan sekuritas lokal sebagai penjamin emisi efek. Perseroan juga belum menentukan standby buyer untuk aksi korporasi itu.
Selain rights issue, MEDC juga mempertimbangkan untuk mencari dana dari pasar obligasi. Sebelumnya, MEDC meraih dana Rp 1,25 triliun dari penerbitan obligasi berkelanjutan II tahap I. Jumlah itu lebih rendah dibanding target semula yang mencapai Rp 1,5 triliun.
Obligasi senilai Rp 1,25 triliun ini terdiri dari dua seri. Rinciannya, Seri A berjangka waktu tiga tahun bernilai emisi Rp 327 miliar, dan tingkat bunga tetap sebesar 10,8% per tahun. Seri B berjangka waktu lima tahun bernilai emisi Rp 923 miliar, dan tingkat bunga tetap sebesar 11,3% per tahun. MEDC menggunakan dana obligasi ini untuk membayar utang dan mendanai belanja modal. Saham MEDC turun 3,68% ke level Rp 1.310 per saham pada perdagangan Kamis (24/11).
-------------------------------------
DAILY STOCKPICK
25 NOVEMBER 2016
25 NOVEMBER 2016
SWING TRADE
4-8 MINGGU
BMRI
Speculative Buy: Rp10,025-Rp10,100
Take Profit: Rp10,775
Cut Loss: Rp9,975
BWPT
Buy: Rp206-Rp214
Take Profit: Rp240
Cut Loss: Rp200
TBLA
Buy: Rp920-Rp935
Take Profit: Rp1,050
Cut Loss: Rp885
INDY
Buy: Rp765-Rp785
Take Profit: Rp920
Cut Loss: Rp745
-----------------------------------------
FAST TRADE
1-2 HARI
DSFI: Rp180-Rp186
TRAM: Rp168-Rp173
BAJA: Rp358-Rp368
Speculative Buy: Rp10,025-Rp10,100
Take Profit: Rp10,775
Cut Loss: Rp9,975
Buy: Rp206-Rp214
Take Profit: Rp240
Cut Loss: Rp200
Buy: Rp920-Rp935
Take Profit: Rp1,050
Cut Loss: Rp885
INDY
Buy: Rp765-Rp785
Take Profit: Rp920
Cut Loss: Rp745
-----------------------------------------
FAST TRADE
1-2 HARI
DSFI: Rp180-Rp186
TRAM: Rp168-Rp173
BAJA: Rp358-Rp368
Take Profit: 4%-5%
Cut Loss: 2%-3%
!Gunakan Maksimal Hanya 20% Dari Total Dana Anda Dalam Melakukan Fast Trade!
"The Stock Market is A Device For Transferring Money The Impatient To The Patient"
-Warren Buffet-
--------------------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER ON:
Segala
keputusan investasi kembali ke masing-masing investor dalam pengambilan
keputusan. Kami tidak melakukan pemaksaan atas transaksi yang dilakukan
investor dan tidak bertanggung jawab atas segala kerugian.
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Follow us on Twitter: @Republik_Invest
Join Our Group on Whatsapp for Live Trade Guidance
085781739301





KABAR BAIK!!!
ReplyDeleteNama saya Lady Mia, saya ingin menggunakan media ini untuk mengingatkan semua pencari pinjaman agar sangat berhati-hati, karena ada penipuan di mana-mana, mereka akan mengirim dokumen perjanjian palsu kepada Anda dan mereka akan mengatakan tidak ada pembayaran di muka, tetapi mereka adalah penipu , karena mereka kemudian akan meminta pembayaran biaya lisensi dan biaya transfer, jadi berhati-hatilah terhadap Perusahaan Pinjaman yang curang itu.
Perusahaan pinjaman yang nyata dan sah, tidak akan menuntut pembayaran konstan dan mereka tidak akan menunda pemrosesan transfer pinjaman, jadi harap bijak.
Beberapa bulan yang lalu saya tegang secara finansial dan putus asa, saya telah ditipu oleh beberapa pemberi pinjaman online, saya hampir kehilangan harapan sampai Tuhan menggunakan teman saya yang merujuk saya ke pemberi pinjaman yang sangat andal bernama Ms. Cynthia, yang meminjamkan saya pinjaman tanpa jaminan sebesar Rp800,000,000 (800 juta) dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa konstan pembayaran atau tekanan dan tingkat bunga hanya 2%.
Saya sangat terkejut ketika saya memeriksa saldo rekening bank saya dan menemukan bahwa jumlah yang saya terapkan dikirim langsung ke rekening bank saya tanpa penundaan.
Karena saya berjanji bahwa saya akan membagikan kabar baik jika dia membantu saya dengan pinjaman, sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman dengan mudah tanpa stres atau penipuan
Jadi, jika Anda memerlukan pinjaman apa pun, silakan hubungi dia melalui email nyata: cynthiajohnsonloancompany@gmail.com dan atas karunia Allah, ia tidak akan pernah mengecewakan Anda dalam mendapatkan pinjaman jika Anda mematuhi perintahnya.
Anda juga dapat menghubungi saya di email saya: ladymia383@gmail.com dan Sety yang memperkenalkan dan memberi tahu saya tentang Ibu Cynthia, ini emailnya: arissetymin@gmail.com
Yang akan saya lakukan adalah mencoba untuk memenuhi pembayaran cicilan pinjaman saya yang akan saya kirim langsung ke rekening perusahaan setiap bulan.
Sepatah kata cukup untuk orang bijak.