IHSG 28 Desember bergerak perkasa dan ditutup menguat 2.09% pada level 5,209. Sebanyak 247 saham naik, 81 saham turun dan 104 saham bergerak stagnan dengan total transaksi harian yang cukup besar yaitu sebesar 6.58Trilliun. Investor asing membukukan beli bersih 682.95Milliar. Hari ini kami memprediksikan IHSG akan lanjut menguat menuju supply zone 5,224-5,254 dengan support pada level 5,180. Window dressing effect akan berlanjut setidaknya hingga akhir Desember ini, namun tetap disiplin megatur money management dalam setiap trading yang dilakukan. Batasi risiko anda and let the profit run.
Berikut Heatmap pergerakan saham 28 Desember 2016 kemarin.
------------------------
Berikut Heatmap pergerakan saham 28 Desember 2016 kemarin.
------------------------
Global
&
&
Commodity Indices
------------------------
HIGHLIGHT NEWS
1. Dollar Perkasa, Harga Emas Berpotensi Jatuh Lagi
Bisnis.com,
JAKARTA--Masih lemahnya faktor fundamental dan tren peningkatan dolar AS
membuat harga emas rentan terjatuh meskipun sudah mengalami reli dalam tiga
sesi perdagangan terakhir. Pada
perdagangan Rabu (28/12) pukul 19:05 WIB, harga emas spot naik 0,8 poin menuju
ke US$1.138,86 per troy ounce (Rp492.364 per gram). Sementara emas comex
kontrak Februari 2017 meningkat 0,3 poin menjadi US$1.139,2 per troy ounce.
Pekan kemarin harga emas
menunjukkan penurunan mingguan ketujuh secara berturut-turut. Depresiasi ini
menjadi pemerosotan mingguan terpanjang sejak Mei 2004. Sementara indeks dolar AS pada pukul 20:00 WIB naik 0,47 poin
atau 0,46% menuju 103,49. Ini menunjukkan peningkatan 4,93% sepanjang tahun
berjalan.
Jingyi Pan, market strategist IG Asia Pte., menuturkan harga
emas terdongkrak dalam waktu dekat akibat memudarnya faktor Trump. Seperti
diketahui, sejak taipan properti tersebut menjabat sebagai presiden AS, mata
uang dolar menguat tajam.
Kenaikan dolar mengonfirmasi optimisme pertumbuhan ekonomi dan
inflasi Paman Sam dari pidato kemenangan Trump. Puncaknya penguatan greenback
terjadi setelah Federal Reserve mengerek suku bunga 25 basis poin menjadi
0,5%-0,75% pada pertengahan Desember.
Menghijaunya dolar menekan harga komoditas, terutama emas yang
dianggap sebagai aset lindung nilai. Kemilau harga batu kuning kian pudar
setelah Federal Reserve merencanakan pengerekan suku bunga sebanyak tiga kali
pada 2017. Menurut Pan, meski harga emas meningkat dalam tiga sesi
perdagangan terakhir, belum ada dasar yang kuat dalam mendukung kenaikan.
"Harga emas pada akhir tahun bisa menguat karena faktor
teknikal setelah jatuh terlalu dalam. Dengan dolar yang nyaman di level tinggi,
belum ada alasan penguatan emas dapat berlanjut pesar," tuturnya seperti
dikurip dari Bloomberg,
Rabu (28/12/2016).
Berdasarkan data Bloomberg,
kepemilikan emas di bursa sudah turun 1,1 ton menjadi 1.778 ton pada Selasa
(27/12). Ini merupakan level terendah sejak Mei 2016 dan menunjukkan
pemerosotan dalam 32 sesi perdagangan terakhir.
Asia Plus Securities dalam risetnya kemarin berpendapat harga
emas berhasil rebound setelah mengalami tren merosot. Namun, bila harga kembali
mencapai US$1.160 per troy ounce, maka aksi jual (profit taking) kembali mendominasi.
2. Jelang Imlek, Harga CPO Dapat Sentimen Positif.
Bisnis.com,
JAKARTA--Harga minyak kelapa sawit meningkat ke posisi tertinggi dalam seminggu
terakhir seiring dengan proyeksi kenaikan permintaan dari China menjelang Tahun
Baru Imlek dan pelemahan mata uang ringgit. Pada penutupan perdagangan Bursa Malaysia, Rabu (28/12), harga
CPO kontrak Maret 2017 naik 2 poin atau 0,66% menuju 3.130 ringgit (US$697,49)
per ton. Ini menunjukkan pertumbuhan 22,41% sepanjang tahun berjalan.
Ivy Ng, regional head of
plantations research CIMB Investment Bank Bhd., mengatakan China sedang
bersiap-siap meningkatkan pembelian CPO menjelang festival Tahun Baru Imlek
yang jatuh pada tanggal 28 Januari 2017. Libur panjang dalam rangka perayaan
berlangsung 7 hari mulai 27 Januari.
Berdasarkan data Malaysian Palm Oil Board (MPOB), China
merupakan importir CPO terbesar kedua di dunia setelah India. Pada
Januari-November 2016, Negeri Panda mengambil 1,72 juta ton CPO dari Malaysia,
turun 24,61% atau 562.629 ton secara tahunan (year on year/yoy) dari 2,38
juta ton.
Selain itu, pelemahan ringgit membuat harga komoditas di bursa
Malaysia kian murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Kemarin,
ringgit terkoreksi 0,1% menuju 4,48 per dolar AS. "CPO terangkat sentimen China yang memacu pembelian sebelum
festival besar bulan depan. Apalagi ditambah dengan pelemahan ringgit,"
ujar Ng, Rabu (28/12/2016).
Dia menambahkan, harga CPO turut terdongkrak kenaikan harga
kedelai sebagai komoditas subtitusi. Kemarin pada pukul 18:05 WIB, di bursa
Chicago Board of Trade (CBOT) harga kedelai naik 0,1% menjadi US$1.025,25 per
ton, tumbuh 16,61% sepanjang tahun berjalan.
Meskipun demikian, CPO mendapat sentimen negatif dari proyeksi
pelemahan ekspor dari Malaysia karena lesunya permintaan dari Jepang, Korea, Taiwan,
Singapura, dan negara-negara Afrika.
Berdasarkan data Intertek Testing Services, ekspor turun 5,6%
secara bulanan (month on month/mom) pada tanggal 1-25 Desember
2016 menjadi 845.441 ton dari sebelumnya 895.625 ton. Adapun laporan surveyor
kargo Societe Generale de Surveillance (SGS) menunjukkan pengiriman CPO keluar
negeri dalam waktu yang sama turun 7,6% mom menuju 827.347 ton.
3. Harga Timah Sudah Melesat 44.22% Sejak 2015.
JAKARTA. Perkara pasokan juga jadi faktor yang mendukung kenaikan harga timah sepanjang tahun. Imbas negatif dari penguatan USD pun gagal menjegal laju harga komoditas logam industri ini.
-------------------------------------
JAKARTA. Perkara pasokan juga jadi faktor yang mendukung kenaikan harga timah sepanjang tahun. Imbas negatif dari penguatan USD pun gagal menjegal laju harga komoditas logam industri ini.
Mengutip Bloomberg, Rabu (28/12) pukul 13.50 WIB harga timah kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange merosot 0,51% ke level US$ 20.992 per metrik ton dibanding hari sebelumnya. Hanya saja sejak akhir tahun 2015 lalu harga timah sudah melesat 44,22%.
Ibrahim, Direktur PT Garuda Berjangka menjelaskan keringnya pasokan timah global juga turut menguntungkan pergerakan harga komoditas logam industri ini. Ketatnya aturan ekspor timah di Indonesia yang berlangsung beberapa waktu terakhir menjadi penyebab mengempisnya pasokan secara global. Apalagi produksi Myanmar yang diharapkan bisa mengisi kekosongan pasokan akibat keterbatasan ekspor dari Indonesia ternyata gagal memenuhi harapan pasar.
Hal ini disampaikan oleh International Tin Research Institute (ITRI) yang memperkirakan sepanjang 2016 ini produksi Myanmar stagnan di level 50.000 ton. Mengarahkan ITRI kepada dugaan bahwa di tahun ini stok global timahhanya di sekitar 25.000 ton atau jauh di bawah stok 2009 silam lalu yang mencapai 65.000 ton. “Terlihat jelas semakin mendekati penutupan tahun, pergerakan harga timah justru makin memuaskan,” kata Ibrahim.
Ini juga yang membawa harga timah pada 7 November 2016 lalu menyentuh level tertingginya sejak Agustus 2014 di level US$ 21.845 per metrik ton. Salah satunya datang dari laporan PT Timah Tbk bahwa produksi timahnya di kuartal tiga 2016 turun 2% dibanding kuartal tiga 2015 lalu.
Padahal di saat yang bersamaan, aktivitas industri baik di China dan AS terus membaik. Ditambah lagi World Bureau of Metal Statistics mencatatkan terjadi defisit pasokan timah sebesar 28.800 metrik ton sepanjang periode Januari – Oktober 2016 di pasar global.
Ibrahim menilai peluang koreksi tetap ada, meski potensi untuk kembali mengulang catatan buruk seperti yang pernah terjadi 15 Januari 2016 lalu saat harga menyentuh level terendahnya sejak Agustus 2009 di US$ 13.300 per metrik ton masih cukup kecil. “Kekurangan pasokan ini masih akan berlanjut, tapi perlu mewaspadai aksi produsen yang akan menggenjot produksi demi memanfaatkan kenaikan harga,” perkiraan Ibrahim.(Kontan)
-------------------------------------
DAILY STOCKPICK
29 DESEMBER 2016
29 DESEMBER 2016
SWING TRADE
4-8 MINGGU
BJTM
Buy: Rp560-Rp575
Take Profit: Rp635
Cut Loss: Rp540
ELSA
Buy: Rp436
Take Profit: Rp480
Cut Loss: Rp418
INCO
Buy: Rp2,770
Take Profit: Rp3,000-Rp3,060
Cut Loss: Rp2,640-Rp2,680
-----------------------------------------
FAST TRADE
1-2 HARI
BIPI: Rp76-Rp78
TRAM: Rp150-Rp152
BUMI: Rp276-Rp278
BRMS: Rp66-Rp68
Buy: Rp560-Rp575
Take Profit: Rp635
Cut Loss: Rp540
Buy: Rp436
Take Profit: Rp480
Cut Loss: Rp418
INCO
Buy: Rp2,770
Take Profit: Rp3,000-Rp3,060
Cut Loss: Rp2,640-Rp2,680
-----------------------------------------
FAST TRADE
1-2 HARI
BIPI: Rp76-Rp78
TRAM: Rp150-Rp152
BUMI: Rp276-Rp278
BRMS: Rp66-Rp68
Take Profit: 4%-5%
Cut Loss: 2%-3%
!Gunakan Maksimal Hanya 20% Dari Total Dana Anda Dalam Melakukan Fast Trade!
"The Stock Market is A Device For Transferring Money The Impatient To The Patient"
-Warren Buffet-
--------------------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER ON:
Segala keputusan investasi kembali ke masing-masing investor dalam pengambilan keputusan. Kami tidak melakukan pemaksaan atas transaksi yang dilakukan investor dan tidak bertanggung jawab atas segala kerugian.
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Follow us on Twitter: @Republik_Invest
Join Our Group on Whatsapp for Live Trade Guidance
085781739301




Post a Comment