IHSG 11 Januari kembali ditutup melemah 0.16% pada level 5,301 dengan value transaksi sebesar Rp5.31 Trilliun. Asing masih melakukan aksi jual dengan nilai Rp121.5 Milliar. Sebanyak 154 saham naik, 141 saham turun dan 114 saham bergerak stagnan. Hari ini kami memprediksikan IHSG akan kembali melemah dengan support pada level pada zona level 5,275-5,300.
------------------------
------------------------
Global
&
&
Commodity Indices
------------------------
HIGHLIGHT NEWS
1. Sentimen Penggerak Batubara Cukup Seimbang
JAKARTA. Tren harga batubara masih cukup positif meski sentimen yang mempengaruhi cenderung beragam. Selama harga minyak dan gas alam naik, maka peluang batubara rebound tetap terbuka.
Mengutip Bloomberg, Selasa (10/1) harga batubara kontrak pengiriman Februari 2017 di ICE Futures Exchange tergerus 0,67% ke level US$ 80,60 per metrik ton dibanding sehari sebelumnya. Dalam sepekan terakhir, batubara terjun 10,2%.
Wahyu Tri Wibowo, analis PT Central Capital Futures mengatakan, pergerakan harga batubara mirip dengan minyak tetapi masih melihat sentimen utama dari China. Pengendalian harga terus dilakukan oleh pemerihtah negeri Tiongkok.
Ketika harga turun, China membatasi jam kerja operasional sehingga produksi bisa berkurang. Tetapi, pembatasan jam kerja mulai dilonggarkan kembali saat harga mulai naik signifikan. Bersamaan dengan itu, produksi batubara di Australia yang semula dikurangi juga kembali normal setelah terjadi kenaikan harga.
"Harga batubara saat ini memang terkoreksi, tetapi belum anjlok," kata Wahyu.
Selama harga minyak dan gas alam terus naik, maka batubara pun akan kembali menanjak. Apalagi China masih akan terus melakukan stabilisasi harga. Perencana utama ekonomi negara China menyebutkan, China berencana memotong kapasitas tambang batubara sebesar 300 juta ton per tahun sampai 2020.
"Intinya, China menjaga harga agar jangan anjlok untuk kebaikan sektor tambang dan sektor finansial. Tetapi China juga menjaga harga tidak terlalu tinggi untuk sektor energi yang stabil dan efisien," imbuh Wahyu.
Sentimen yang mengelilingi laju batubara saat ini terlihat seimbang meski masih rentan koreksi. Tren komoditas serta pengendalian harga di China menahan harga dari kejatuhan. Tetapi ada ancaman dari kenaikan suku bunga The Fed yang dapat menyebabkan nilai tukar dollar AS melambung.
Kondisi ini masih lebih baik dibanding tahun 2012 - 2015 dimana sentimen negatif lebih dominan. Saat itu batubara ditekan oleh berbagai sentimen negatif mulai dari isu lingkungan, tren pelemahan komoditas, perlambatan ekonomi global, turunnya permintaan hingga penguatan dollar AS. Negara China pun cenderung tidak peduli dengan penurunan harga batubara.
Dalam jangka menengah, Wahyu melihat kisaran harga batubara di US$ 70 - US$ 110 per metrik ton. Sedangkan range harga hingga akhir Februari di US$ 70 - US$ 100 per metrik ton.(Kontan)
2. WTON Lepas Saham Treasury Jika Tembus Rp1,000.
JAKARTA. PT Wika Beton Tbk (WTON) punya sejumlah cara guna memenuhi pendanaan ekspansinya tahun ini. Selain obligasi, opsi pendanaan lainnya adalah menjual kembali saham treasuri.
Seperti diketahui, WTON memiliki 337,15 juta saham treasuri. Hingga November 2016 lalu, WTON mengempit saham tersebut genap selama tiga tahun. Sesuai peraturan pasar modal, saham treasuri wajib dilepas kembali ke pasar setelah periode tiga tahun tersebut. Pelepasannya bisa dilakukan secara bertahap atau sekaligus.
Direktur Keuangan WTON Entus Asnawi bilang, pelepasannya juga mempertimbangkan harga saham yang selama ini beredar di pasar. "Kalau harga saham WTON bisa mencapai Rp 1.000 atau Rp 1.100, ini sudah cukup bagus," imbuhnya, Rabu (11/1).
Informasi saja, pada perdagangan Rabu, saham WTON ditutup melemah 15 poin ke level Rp 835 per saham.
Pelepasan treasuri ini, lanjut Entus, juga bisa dibilang menjadi opsi kesekian sebagai sumber pendanaan. Sebab, selain obligasi juga perseroan masih memiliki ruang yang cukup lebar untuk mencairkan pinjaman atas fasilitas pinjaman yang selama ini sudah dimiliki perseroan.
"Debt to equity ratio (DER) kami masih dibawah satu kali, gearing ratio juga 0,3 kali, jadi kami masih bisa menarik pinjaman," jelas Entus.
Antara obligasi atau pinjaman juga menyesuaikan kebutuhan. Jika butuh modal untuk ekspansi besar, maka obligasi dipilih. Tapi jika hanya untuk modal kerja, pinjaman bank saja cukup.
Dengan sumber-sumber pendanaan ini diharapkan mampu memuluskan rencana WTON mengejar target kontrak baru 2017 sekitar Rp 6 triliun. Tahun ini, WTON juga menargetkan pendapatan dan laba bersih masing-masing Rp 5 triliun dan Rp 330 miliar.(Kontan)
3. China's Great Ball of Money Has More Bubbles in Sight for 2017
Call it China’s Great Ball of Money, Whac-a-Mole Finance, or simply a whole lot of liquidity. Whatever term you use for the excess credit trapped in China’s financial system, few would deny that predicting its sometimes erratic movements can be a money-maker for analysts, traders and investors.
After a string of market bubbles in recent years, China will again see assets threatened in 2017 by prices detaching from fundamentals.
That’s the opinion of all but one of 14 economists surveyed by Bloomberg late last month. Half penciled in the risk of a real-estate bubble inflating, despite efforts by policy makers in recent months to avoid exactly that outcome. An additional four saw the corporate bond market as most vulnerable to becoming a bubble, again even as officials take steps to raise costs and reduce a build-up in debt.
“It’s a very challenging task of balancing the need to reduce leverage and to maintain a certain growth rate, while ensuring the stability of the financial system,” said Teck Kin Suan, senior economist at United Overseas Bank Ltd. in Singapore. “Liquidity that remains in the system would still have to look for returns, and the reduced opportunities to invest overseas could exacerbate the asset bubbles.”
Regulators the world over struggle to head off irrational exuberance. Making things all the tougher for China are the increasingly tight capital controls limiting the money that can be invested abroad. That leaves a large stockpile of cash seeking a home in domestic assets.
And with a slowing economy and a still-powerful pace of credit growth, the money ball is only getting larger. The problem began, arguably, when the Communist leadership unleashed a record surge in credit to shore up the economy during the global crisis. The following series of charts tracks the progression of assets roiled since then.(Bloomberg)
Source: Link
-------------------------------------
DAILY STOCKPICK
4 JANUARI 2017
4 JANUARI 2017
SWING TRADE
4-8 MINGGU
HRUM
Buy: Rp2,050-Rp2,080
Take Profit: Rp2,440
Cut Loss: Rp1,980
AALI
Buy: Rp17,000-Rp17,050
Take Profit: Rp17,900
Cut Loss: Rp16,650
CTRA
Buy on Weakness: Rp1,250-Rp1,275
Take Profit: Rp1,400
Cut Loss: Rp1,230
-----------------------------------------
FAST TRADE
1-2 HARI
NIKL: Rp2,500
ISSP: Rp228
BAJA: Rp330-Rp336
AGRO: Rp442-Rp446
Buy: Rp2,050-Rp2,080
Take Profit: Rp2,440
Cut Loss: Rp1,980
Buy: Rp17,000-Rp17,050
Take Profit: Rp17,900
Cut Loss: Rp16,650
Buy on Weakness: Rp1,250-Rp1,275
Take Profit: Rp1,400
Cut Loss: Rp1,230
-----------------------------------------
FAST TRADE
1-2 HARI
NIKL: Rp2,500
ISSP: Rp228
BAJA: Rp330-Rp336
AGRO: Rp442-Rp446
Take Profit: 4%-5%
Cut Loss: 2%-3%
!Gunakan Maksimal Hanya 20% Dari Total Dana Anda Dalam Melakukan Fast Trade!
"The Stock Market is A Device For Transferring Money The Impatient To The Patient"
-Warren Buffet-
--------------------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER ON:
Segala keputusan investasi kembali ke masing-masing investor dalam pengambilan keputusan. Kami tidak melakukan pemaksaan atas transaksi yang dilakukan investor dan tidak bertanggung jawab atas segala kerugian.
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Follow us on Twitter: @Republik_Invest
Join Our Group on Whatsapp for Live Trade Guidance
085781739301




Post a Comment