Tertekan hingga level 5,179 IHSG kembali melemah hingga akhir sesi 22 Juli 2016 dan ditutup pada level 5,197 atau mengalami penurunan sebesar 0.38%. Investor asing membukukan  jual bersih sebesar 230 Milliar pada hari tersebut. Hari ini kami memprediksikan IHSG akan kembali melemah dengan level resistance 5,242 dan support 5,172.
Berikut saham-saham penggerak IHSG dari berbagai sektor.





Global & Commodities Indices


--------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
 
HIGHLIGHT NEWS
1. SSIA Baru Bisa Caplok 40% Lahan di Subang.
JAKARTA. PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) baru mencaplok lahan di Subang seluas 120 hektare (ha) sepanjang semester pertama 2016. Ini baru sekitar 40% dari target tahun ini yang mencapai 300 ha. Dengan tambahan lahan yang telah berhasil dibebaskan pada tahun lalu seluas 360 ha, maka total landbank perseroan saat ini di Subang mencapai 480 ha. Nilai akuisisinya masih di bawah US$ 10 per meter persegi (m2. Erlin Budiman, Investor Relation SSIA mengatakan, tantangan yang dihadapi perseroan untuk akuisisi lahan di Subang meningkat belakangan setelah beroperasinya tol Cikopo-Palimanan. Belum lagi adanya rencana pembangunan pelabuhan Patimban yang berdekatan dengan kawasan tersebut. "Itu yang membuat akuisisi lahan lambat," katanya, Jumat (22/7). (Kontan)
2. Kinerja Emiten Property Masih Lesu.
JAKARTA. Penjualan properti sepanjang semester I-2016 masih lesu. Ini tercermin dari rata-rata realisasi target marketing sales atau pra penjualan enam emiten selama enam bulan pertama tahun ini masih sekitar 33%. Total nilai marketing sales yang dibukukan keenam emiten properti baru sekitar Rp 10,3 triliun atau 33% dari total target yang telah ditetapkan tahun ini yakni Rp 31,36 triliun. Seluruh emiten mengalami perlambatan marketing sales jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Namun, sejumlah emiten masih optimistis bisa mencapai target yang ditetapkan tahun ini. Optimisme tersebut seiring adanya kebijakan tax amnesty yang diharapkan bisa mendorong penjualan properti dan adanya pelonggaran aturan pembiayaan properti untuk kredit inden. Salah satunya, PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) yang mengantongi marketing sales Rp 1,14 triliun, atau 37% dari target yang dipatok tahun ini yakni Rp 3,1 triliun. Ini turun 42,8% dibandingkan dengan perolehan marketing sales pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 2 triliun.(Kontan)
3. Permintaan Korsel dan AS Turut Mengangkat Batubara.
JAKARTA. Pemakaian batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik masih sulit dihindari. Negara - negara yang telah gencar memerangi pemakaian batubara bahkan belum dapat sepenuhnya lepas dari bahan bakar fosil ini. Tingginya pemakaian batubara menjaga harga stabil di level tinggi. Mengutip Bloomberg, Kamis (21/7) harga batubara kontrak pengiriman Agustus 2016 di ICE Futures Exchange tergerus 0,15% ke level US$ 63,85 per metrik ton dibanding sehari sebelumnya. Sementara dalam sepekan terakhir, harga batubara menguat 1,23%. Wahyu Tri Wibowo, Analis PT Central Capital Futures mengatakan, harga batubara cenderung bergerak stabil karena tidak terpengaruh oleh gejolak ekonomi global. "Sentimen batubara masih bagus sehingga harga stabil di level tinggi," tuturnya.(Kontan)

4. Oil Is a 'Perfect Match' to 2008 And That's Not a Good Thing
In a recent interview with CNBC's "Fast Money" Cornerstone Macro's Carter Worth described the current chart of crude oil as a "perfect match" to that of the turbulent 2008-2009 period. That leads him to believe the commodity could continue to come under pressure. "I think we're going lower, and crude looks to my eyes like it's heading back to $40," said Worth. On Friday, crude oil dipped below $44 for the first time since mid-May intraday before closing above that level. Yet Brent has now fallen 15 percent from its June high, when it traded just under $52 a barrel. Looking at a long-term chart of crude, Worth pointed to a "triple bottom" that formed in 2008-2009. Typically, technicians view these types of patterns as a reversal in trend. However, it's that performance in the months after that has Worth more concerned. "What's important is that after 29 sessions remarkably, we sell off 20 percent and then after 81 sessions we sell off 20 percent," he explained. "Well, guess what happens this time?" asked Worth, pointing to the current chart of crude. "We're having literally a perfect match.




------------------------------------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------------------------------------------

DAILY STOCKPICK
22 JULI 2016


SWING TRADE
1-4 MINGGU

KRAS
Buy on Weakness: Rp575-Rp590
Take Profit: Rp650-Rp660
Cut Loss: Rp565-570




PWON
Buy : Rp640-Rp645
Take Profit: Rp660-Rp665
Cut Loss: Rp615Rp620


  -------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------

FAST TRADE
1-2 HARI 

PGAS: Rp2,970
SIDO: Rp570
MYRX: Rp790

Take Profit: 4%-5%
Cut Loss: 2%



"Never Stop Investing, Never Stop Improving, Never Stop Doing Something New"
-Bob Parsons-

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------

 
DISCLAIMER ON:
Segala keputusan investasi kembali ke masing-masing investor dalam pengambilan keputusan. Kami tidak melakukan pemaksaan atas transaksi yang dilakukan investor dan tidak bertanggung jawab atas segala kerugian.
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Follow us on Twitter: @Republik_Invest
Join Our Group on Whatsapp for Live Trade Guidance
 085781739301

Post a Comment

 
Top