IHSG ditutup menguat 18.9% pada level 5,353 dengan total transaksi sebesar 4 Triliun dan asing membukukan beli bersih sebesar Rp51 Milliar pada penutupan akhir pekan lalu, Jum'at 2 September 2016. Hari ini kami memprediksikan IHSG akan kembali bergerak mix cenderung kembali melemah pada area level resistance 5,434 dan level support 5,300.
Berikut Sektor dan Saham Penggerak IHSG
Global & Commodity Indices
--------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Berikut Sektor dan Saham Penggerak IHSG
Global & Commodity Indices
--------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
HIGHLIGHT NEWS
1. Data Tenaga Kerja AS Akan Mendorong Nilai Rupiah.
3. WIKA Cari Teman Di Kawasan Industri Makassar.
Jakarta. Data sektor tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang buruk di akhir pekan ini bisa jadi suntikan bagi rupiah untuk melambung tinggi. Terutama jika mengingat fundamental rupiah yang masih positif. Di pasar spot, Jumat (2/8) nilai tukar rupiah terangkat 0,16% di level Rp 13.247 per dollar AS dibanding hari sebelumnya. Sejalan di kurs tengah Bank Indonesia posisi rupiah menguat tipis 0,06% ke level Rp 13.261 per dollar AS.
Resti Afiadinie, Research and Analyst Divisi Treasury PT Bank Negara Indonesia Tbk, mengatakan jelas pemicu utama kenaikan rupiah akhir pekan lalu karena terjadinya deflasi di Indonesia Agustus 2016 yang positif bagi rupiah. Dukungan ditambah dengan antisipasi pasar terhadap jejeran data tenaga kerja AS yang sesaat membuat USD mengendur. Celah ini yang lantas dimanfaatkan rupiah untuk unggul.
Resti menduga Senin (5/8) potensi rupiah lanjutkan penguatan terbuka lebar. "Data sektor tenaga kerja AS yang buruk akan menghantam USD dan jadi sumber kekuatan rupiah," jelasnya. Memang pada akhir lalu trio data sektor tenaga kerja AS mengecewakan. Mulai dari upah tenaga kerja yang turun dari 0,3% menjadi 0,1%, lalu tenaga kerja sektor non pertanian merosot jauh dari 275.000 menjadi 151.000 dan terakhir tingkat pengangguran stagnan di level 4,9%.
Artinya ini bisa menjegal harapan terjadinya kenaikan suku bunga The Fed pada FOMC September 2016 seperti yang diharapkan pelaku pasar. Sebagai informasi, data tenaga kerja ini merupakan salah satu indikator utama yang dipakai The Fed untuk menjadi ukuran kelayakan kenaikan suku bunga.
"Dengan fundamental kuat jelas ini jadi keuntungan bagi rupiah," tutup Resti.(Kontan)
2. Pelonggaran LTV Beri Angin Segar Bagi BBCA.
Jakarta. Bank Indonesia (BI) kembali memberikan relaksasi loan to value (LTV) atas kredit kepemilikan rumah atau KPR. Down payment KPR rumah pertama yang selama ini minimal 20% diturunkan jadi 15%. Lalu, DP untuk rumah kedua menjadi 20% dari sebelumnya 30%. Begitu pula dengan DP untuk KPR rumah ketiga dan seterusnya yang sebelumnya minimal 40% menjadi 20%. DP atas KPR untuk rumah tipe kecil malah digratiskan.
Analis Phillip Securities Milka Mutiara menjelaskan, jika fokus pada sisi kebijakannya maka fundamental bank yang memiliki basis kredit KPR akan menjadi semakin menarik. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) contohnya. Apalagi, permintaan KPR melalui BBTN selama ini cenderung tinggi. Ini seiring dengan program sejuta rumah dari pemerintah.
"Jadi, tanpa ada pelonggaran LTV pun demand KPR (BBTN) sudah tinggi," ujar Milka akhir pekan lalu. Dalam kondisi seperti ini, malah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang justru terlihat lebih menarik. BBCA juga memiliki lini bisnis penyaluran KPR.
Tahun ini sendiri manajemen menargetkan pertumbuhan KPR sebesar Rp 6 triliun atau sekitar 10%-12% year on year). Semakin menarik lagi lantaran single digit rate akan mulai berlaku akhir tahun sehingga bunga KPR juga akan menjadi lebih menarik. Namun, prospek BBCA dibatasi oleh valuasi sahamnya yang sudah terlalu mahal. Milka masih mempertahankan rekomendasi sell BBCA dengan target harga Rp 13.250 per saham.(Kontan)
Jakarta. PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) melalui anak usahanya PT Wika Realty tengah mencari mitra strategis untuk mengembangkan kawasan industri di Makasar seluas 81 hektare (ha).
Suradi Wongso, Sekretaris Perusahaan WIKA mengatakan saat ini tengah menjajaki kerjasama dengan beberapa calon partner yang berasal dari lokal dan luar negeri. "Satu calon partner berasal dari China. Ini sedang dalam proses due diligence dan ditargetkan tercapai kesepakatan tahun 2016 ini," katanya pada KONTAN, baru-baru ini.
Menurut Suradi, rencana pengembangan kawasan industri tersebut merupakan startegi WIKA untuk terus melakukan diversifikasi usaha. Ia bilang, pihaknya tidak tidak akan fokus pada pada pengembangan satu bisnis saja untuk mengantisipasi jika satu lini bisnis yang digarap perseroan mengalami perlambatan.
Nantinya, kawasan industri tersebut akan dikembangkan partner bersama Wika Realty sebagai anak usaha WIKA yang fokus pada bisnis properti. Sebelumnya, Widyo Praseno, Direktur Pemasaran dan Pengembangan Bisnis Wika Realty mengatakan pihaknya menargetkan partner untuk pengembangan kawasan industri tersebut sudah dapat pada Oktober tahun ini.
Selain di Makasar, WIKA juga membidik pengembangan kawasan industri di wilayah lain. Suradi mengungkapkan, pihaknya telah mengajukan untuk bisa ikut mengembangkan kawasan Industri Kuala Tanjung seluas 3.000 ha. Untuk memperkuat Wika Realty dalam melakukan ekpansi, WIKA akan menyuntikkan modal lebih dari Rp 500 miliar pada anak usahanya tersebut. Pemberian tambahan modal tersebut direncanakan akan dilakukan pada September 2016 ini.
Suntikan modal diharapkan akan semakin memperbesar aset portofolio Wika Realty sebelum melakukan penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) awal tahun 2017.
Selain tengah mencari mitra mengembangkan kawasan industri Makassar, Wika Realty juga memiliki banyak rencana ekspansi tahun ini. Salah satunya akan mengakuisisi 51% saham perusahaan pemilik konsensi dan Build-Operate-Transfer (BOT) pasar Bendungan Hilir di atas lahan seluas 1,8 ha. Lahan tersebut merupakan milik Pemda DKI melalui PD Pasar Jaya dan nantinya akan dikembangkan menjadi Benhil Central Mix Use yang terdiri dari trade center, Life Style, Hotel dan perkantoran.(Kontan)
4. Harga Batubara Naik, Nasib Anak SMRU Belum Jelas
Jakarta. Harga komoditas batubara mulai naik tipis. Namun PT SMR Utama Tbk (SMRU) belum memastikan periode menghidupkan kembali enam anak usaha yang disetop tahun lalu karena anjloknya harga batubara.
Sekretaris Perusahaan PT SMR Utama Tbk Ricky Kosasih bilang, tahun ini perusahaan belum ada pengembangan untuk anak usaha. ”Hingga saat ini belum dapat memperkirakan kapan operasional entitas anak, melihat harga komoditas batu bara yang masih terbilang lesu,” kata Ricky diketerbukaan Jumat (2/9).
Sebelumnya, SMRU juga memang menganggarkan dana belanja modal dari kas internal sebesar US$ 5 juta yang hanya dipergunakan untuk maintenance alat-alat berat. Makanya terlihat beban pokok penjualan meningkat 13% menjadi US$ 20,6 juta dari US$ 18,2 juta.
Ricky menjelaskan peningkatan beban pokok penjualan pada semester I tahun ini sebagian besar disebabkan jadwal untuk overhaul atau pemeliharaan alat produksi. Adapun alat berat yang dimaksud seperti kendaraan dan alat berat.
Melihat kinerja yang masih anjlok, Ricky efisiensi menjadi strategi perusahaan disisa tahun 2016 ini. seperti menekan performa keuangan dan oprasinonal pada periode mendatang. Serta fokus pada peningkatan volume produksi dari pelanggan yang ada saat ini.
Tercatat memang perusahaan sedang melakukan negoisasi penambahan kontrak dengan PT Berau Coal Tbk, yang saat ini dalam proses finalisasi. Nantinya untuk pengupasan tanah perusahaan akan bertambah sekitar 5 juta bcm disalah satu tambang milik PT Berau Coal. Tahun lalu total pengupasan tanah yang dilakukan perusahaan mencapai 21,02 bcm.(Kontan)
------------------------------------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------------------------------------------
DAILY STOCKPICK
5 SEPTEMBER 2016
5 SEPTEMBER 2016
SWING TRADE
4-8 MINGGU
PWON
Buy: Rp610
Take Profit: Rp670
Cut Loss: 5%
AISA
Buy: Rp2,150
Take Profit: Rp2,300
Cut Loss: 4%
-------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------
FAST TRADE
1-2 HARI
CASA: Rp394
BNGA: Rp815
TMAS: Rp1,560
Buy: Rp610
Take Profit: Rp670
Cut Loss: 5%
Buy: Rp2,150
Take Profit: Rp2,300
Cut Loss: 4%
-------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------
FAST TRADE
1-2 HARI
CASA: Rp394
BNGA: Rp815
TMAS: Rp1,560
Take Profit: 4%-5%
Cut Loss: 2%
!Gunakan Maksimal Hanya 20% Dari Total Dana Anda Dalam Melakukan Fast Trade!
"The Biggest Risk is Not Taking The Risk"
-Anonymous-
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------
Cut Loss: 2%
!Gunakan Maksimal Hanya 20% Dari Total Dana Anda Dalam Melakukan Fast Trade!
"The Biggest Risk is Not Taking The Risk"
-Anonymous-
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------
DISCLAIMER ON:
Segala keputusan investasi kembali ke masing-masing investor dalam pengambilan keputusan. Kami tidak melakukan pemaksaan atas transaksi yang dilakukan investor dan tidak bertanggung jawab atas segala kerugian.
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Follow us on Twitter: @Republik_Invest
Join Our Group on Whatsapp for Live Trade Guidance
085781739301
Post a Comment