IHSG kembali mengalami koreksi tertekan aksi profit taking investor dan melemah 0.30% ditutup pada level 5,423. Namun hal ini tidak menyurutkan investor Asing untuk membukukan net buy sebesar 2.62 Triliun. Hari ini kami memprediksikan IHSG akan tertekan bergerak mix dengan kecenderungan kembali menguat aksi proit taking dan bergerak mix dengan level support 5,423 dan resistance 5,476. 
Berikut saham dan sektor penggerak 10 Agustus kemarin 








Global & Commodities Indices


--------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------------------------------------

HIGHLIGHT NEWS
1. Data Cina Bebani Harga Aluminium. 
JAKARTA. Harga aluminium tergerus karena China terus meningkatkan produksi aluminium. Mengutip Bloomberg, harga aluminium kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) Selasa (9/8) lalu melemah 0,06% menjadi US$ 1.642 per metrik ton dibanding hari sebelumnya. Tapi sepekan terakhir, harga sudah menguat 1,04%. Analis Asia Tradepoint Futures Andri Hardianto bilang, harga aluminum melemah lantaran produksi aluminium di China diprediksi naik tinggi. Hasil riset Harbor Intelligence menyebut, China akan memproduksi 39 juta ton aluminium di 2020. “Prediksi tersebut memberikan sentimen negatif bagi aluminium,” kata Andri. Sekadar info, China memproduksi lebih dari 50% dari pasokan aluminium di seluruh dunia. Selain itu, Andri mengungkapkan, pertemuan The Fed yang dilaksanakan pada September mendatang ikut mempengaruhi harga komoditas logam, termasuk aluminium. Pelaku pasar berspekulasi The Fed akan menaikkan suku bunga. Sebab data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) menunjukkan hasil positif. Transaksi aluminium juga tengah menurun lantaran musim panas yang tengah berlangsung.(Kontan)
2. Kerja Oke, Kawasan Industri DMAS Bakal Bersinar.
Jakarta. PT Puradelta Lestari Tbk ( DMAS ) tercatat menjadi emiten kawasan industri berperforma terbaik tahun ini dari sisi pencapaiaan pra penjualan lahan. Saat yang lain masih harus ngos-ngosan mengejar separuh target, DMAS justru sudah berhasil melampaui target marketing sales tahun ini. Hingga awal Agustus ini, DMAS telah berhasil mencetak marketing sales dari lahan industri 50,7 hektare (ha). Padahal anak usaha Sinarmas Land ini hanya mematok target pra penjualan lahan 50 ha di 2016.

Tembusnya target tersebut seiring dengan tercapainya kesepakatan penjualan lahan dengan PT Astra Honda Motor (AHM) seluas 38,3 ha di Greenland International Industrial Centre (GIIC) Kota Deltamas. Kehadiran AHM tersebut akan mengukuhkan posisi GIIC sebagai pusat otomotif mengingat sebelumnya sejumlah produsen otomotif telah hadir di kawasan tersebut seperti Suzuki,dan Maxxis Internasional 35 ha, Mitsubhisi 51 ha dan SAIC GM Wuling 60 ha. Sekitar 10,4 ha diperoleh pada semester I, lalu 2 ha di awal semester II dan 38,3 ha diperoleh dari penjualan ke AHM. Tondy Suwanto, Direktur DMAS dalam keterangan resminya baru-baru mengatakan permintaan lahan industri berangsur membaik sejak kuartal kedua tahun 2016.

Ia meyakini dengan membaiknya kondisi makro Indonesia maka potensi penjualan lahan industri ke depan masih akan tetap ada. Tondy bilang, saat ini pihaknya sedang bernegosiasi dengan sejumlah perusahaan yang berminat untuk berinvestasi di kawasan industri Kota Deltamas. Kendati begitu, DMAS belum berencana mengerek target tahun ini. "Kemungkinan yang tengah dinegosisikan sekarang bisa masuk tahun ini. Tapi kita belum punya rencana naikkan target takut mengganggu negosiasi," katanya pada kONTAN, Rabu (10/8).(Kontan)
3. Dalam Tren Turun, Harga Batubara Siap Naik.
Jakarta. Batubara mulai kembali melemah setelah harga mencapai level tinggi. Aksi profit taking serta ancaman turunnya permintaan telah menyeret laju harga batubara. Mengutip Bloomberg, Selasa (9/8) harga batubara kontrak pengiriman September 2016 di ICE Futures Exchange tergerus 0,37% ke level US$ 66,7 per metrik ton dibanding sehari sebelumnya. Dalam sepekan terakhir, batubara melemah 1,8%


Analis PT Asia Tradepoint Futures, Deddy Yusuf Siregar mengatakan, koreksi harga terjadi setelah rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) akhir pekan lalu mengokohkan nilai tukar dollar AS. Imbasnya, harga komoditas yang diperdagangkan dengan dollar AS termasuk batubara mengalami koreksi. "Di sisi lain, faktor teknikal juga memberikan sentimen negatif bagi batubara. Pelaku pasar melakukan aksi profit taking," papar Dedy.

Secara fundamental, batubara kembali terancam oleh penurunan permintaan. Kementerian Sumber Daya dan Batu Bara India melaporkan penurunan impor batubara sebesar 8% menjadi 199,9 juta metrik ton pada kuartal I-2016. Turunnya impor batubara India terjadi di tengah peningkatakan produksi domestik. "Impor batubara India diharapkan turun hingga menjadi 160,16 juta ton pada tahun fiskal ini," imbuh Deddy. Angka persediaan batubara India yang cukup tinggi menjadi alasan pemerintah untuk melarang impor.

Salah satu produsen listrik terbesar di India, NTPC Ltd berencana mengusulkan pemakaian batubara dalam negeri untuk proyek pembangkit listrik di wilayah pantai selatan negara tersebut. Perusahaan milik negara tersebut beralih dari rencana semula untuk menggunakan pasokan luar negeri yang setara 9% dari perkiraan impor tahun ini. Dalam dua tahun terakhir, NTPC menyerukan rencana untuk membeli 14 juta ton batubara yang diimpor setiap tahun selama kurun waktu 10 tahun.(Kontan)

------------------------------------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------------------------------------------

DAILY STOCKPICK
11 AGUSTUS 2016


SWING TRADE
1-4 MINGGU



ADHI
Buy: Rp2,790-Rp2,800
Take Profit: Rp3,000
Cut Loss: Rp2,710-Rp2,720




TLKM
Buy: Rp4,320-Rp4,340
Take Profit: Rp4,900
Cut Loss: Rp4,210-Rp4,220


AKRA
Buy: Rp7,025-Rp7,050
Take Profit: Rp7,650
Cut Loss: Rp6,850-Rp6,875





  -------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------

FAST TRADE
1-2 HARI 

CPRO: Rp67-Rp68
DGIKRp67-Rp68
SRIL: Rp296
DMAS: Rp276



Take Profit: 4%-5%
Cut Loss: 2%

!Gunakan Maksimal Hanya 20% Dari Total Dana Anda Dalam Melakukan Fast Trade!




"The Biggest Risk is Not Taking The Risk"
-Anonymous-

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------


DISCLAIMER ON:
Segala keputusan investasi kembali ke masing-masing investor dalam pengambilan keputusan. Kami tidak melakukan pemaksaan atas transaksi yang dilakukan investor dan tidak bertanggung jawab atas segala kerugian.
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Follow us on Twitter: @Republik_Invest
Join Our Group on Whatsapp for Live Trade Guidance
 085781739301

Post a Comment

 
Top