Awal pekan ini IHSG tergerus aksi profit taking yang cukup besar hingga melemah 1.05% dan ditutup pda level 5,320. Namun, Investor Asing masih membukukan net buy sebesar 351 Milliar. Hari ini kami memprediksikan IHSG akan rebound kembali dengan level support 5,296 dan resistance 5,390.
Berikut Sektor dan Saham Penggerak IHSG 



Global & Commodities Indices


--------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------------------------------------

HIGHLIGHT NEWS
1. Dapat 700 Milliar, JPFA Fokus Bayar Hutang. 
 
JAKARTA-Emiten PT Japfa Commfeed Indonesia Tbk., akan menerbitkan 750 juta saham baru kepada (Kohlberg Kravis Rober & Co.L.P/ KKR), perusahaan investasi asal Amerika Serikat, melalui private placement dengan harga sekitar US$52,9 juta. Bersamaan dengan private placement, perusahaan induknya, Japfa Ltd., juga menjual 441.664.650 saham JPFA kepada KKR dengan harga US$28,3 juta. Artinya, KKR akan mengambil bagian atas 6,57% saham di PT Japfa Tbk., dan 3,87% lainnya dari Japfa Ltd.
Nilai tukar yang digunakan berdasarkan tanggal 7 Juni 2016 sebesar Rp13.263 per dolar AS. Alhasil, JPFA mengantongi dana segar sekitar Rp701,6 miliar. Menurut Putut Djagiri, Senior Vice President Deputy Head of Corporate Finance JPFA, dana tersebut difokuskan untuk membayar utang pereseroan. Berdasarkan laporan keuangan semester I/2016, jumlah liabilitas jangka pendek perusahaan mencapai Rp6,92 triliun, termasuk utang obligasi Rp1,49 triliun. "Ini yang sekitar 1,5 triliun jatuh tempo Januari 2017," papar Putut, Senin (15/8/2016).

Adapun total liabilitas per Juli 2016 sejumlah Rp10,63 triliun, turun 3,8% dari periode yang sama di tahun sebelumnya senilai Rp11,05 triliun.(Bisnis.com)

2. Nilai Tukar Rupiah Ditutup Menguat 28 Poin.
JAKARTA-Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan hari ini, Senin (15/8/2016).
Rupiah berakhir menguat 28 poin atau 0,21% di level Rp13.090 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah juga dibuka di zona hijau dengan penguatan 0,08% atau 10 poin di Rp13.108 per dolar AS.

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah diperdagangkan pada kisaran Rp13.080 – Rp13.126 per dolar AS. Penguatan rupiah dipengaruhi oleh US Dollar Index yang terpantau melemah 0,10% atau 0,09% ke 95,623 pada pukul 16.04 WIB.

Seperti dikutip Bloomberg, pelemahan indeks dolar hari ini dipengaruhi oleh menguatnya harga minyak mentah yang saat ini diperdagangkan di atas kisaran US$44 per barel. Sementara itu, penguatan rupiah juga sejalan dengan mata uang negara Asia Tenggara lainnya yang seluruhnya menguat. Dolar Singapura terpantau menguat 0,14%, ringgit Malaysia terapresiasi 0,54%, baht Thailand menguat 0,51%, sedangkan peso Filipina menguat 0,29%.(Bisnis.com)
3. Emiten Property Yang Dapat Berkah Pemangkasan PPh.

JAKARTA. Insentif yang diberikan pemerintah terhadap sektor properti lewat penurunan pajak penghasilan (PPh) atas penjualan rumah / tanah diperkirakan akan mendorong kinerja emiten properti tahun ini. Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri mengatakan penurunan PPh tersebut akan mendorong kinerja emiten properti tahun menjadi lebih baik. Pasalnya dengan penurunan pajak tersebut maka margin developer akan semakin tebal. "Kinerja perusahaan akan lebih terdorong tahun ini," katanya pada KONTAN, Senin (15/8).

Menurutnya yang paling diuntungkan dengan kebijakan ini adalah perusahaan properti yang memiliki banyak penjualan seperti APLN, CTRA, BSDE, dan SMRA. Hanya saja, Hans tidak bisa menilai seberapa besar dampak penurunan PPh penghasilan ini menopang kinerja emiten. Namun secara umum, Hans memperkirakan tahun ini sektor properti masih bisa tumbuh sekitar 8% karena terdorong oleh kebijakan tax amnesty yang bisa menopang penjualan di semester II ini.

Saat ini, industri properti memang tengah mengalami perlambatan. Hans mengatakan perlambatan tersebut bukan karena beban pajak yang meningkat tetapi daya beli masyarakat yang tengah melambat. Oleh karena itu, Hans memperkirakan akan ada peluang bagi emiten properti untuk mentransfer penurunan pajak tersebut dengan menurunkan harga rumah untuk mendorong penjualan yang tengah lesu. "Namun peluangnya tidak terlalu besar," ujarnya.

Senada, Franky Rivan, analis Daewoo Sekuritas mengatakan penurunan pajak penjualan tersebut akan berdampak besar pada emiten yang memiliki porsi penjualan yang lebih besar. Ia bilang, margin emiten akan terdorong dengan turunnya beban pajak yang harus disetor ke pemerintah. Hanya saja dengan melihat penjualan properti di semester I masih melambat, Franky memperkirakan emiten akan memilih mentransfer insentif penurunan pajak tersebut ke harga jual rumah.(Kontan)


4. CPO Menjaga Tren Bullish.

JAKARTA. Tarik menarik sentimen yang terjadi pada fundamental minyak sawit mentah atau CPO memang besar. Namun analis menduga peluang harga CPO terus pertahankan kenaikan masih ada. Mengutip Bloomberg, Senin (15/8) pukul 17.15 harga CPO kontrak pengiriman Oktober 2016 di Malaysia Derivative Exchange terbang 3,96% di level RM 2.625 per metrik ton dibanding hari sebelumnya. Dalam sepekan terakhir pun sudah melesat 7,62%.

Wahyu Tri Wibowo, Analis Central Capital Futures India tetap membutuhkan minyak kedelai. 70% dari kebutuhan minyak sayurnya masih dari CPO, penurunan daya tarik ini hanya sementara jadi katalis negatif bagi harganya pun belum tentu akan bertahan lama. Memang dari laporan Solvent Extractors Association of India, impor CPO India Juli 2016 menurun 42% menjadi 570.051 ton dibanding tahun sebelumnya. Konsumen di India banyak beralih ke minyak kedelai. Sehingga dinilai faktor ini hanya bersifat sementara.

Dukungan lainnya bagi harga datang dari kenaikan harga minyak mentah dunia dan tingginya laju harga minyak kedelai. Faktor tersebut memberikan kesempatan bagi harga CPO untuk terus lanjutkan performa gemilangnya. "Karena semakin tinggi harga minyak kedelai naik, maka pasar akan semakin beralih ke CPO," ujar Wahyu.

Jika menilik dari pergerakan harga, Rabu (16/8) Wahyu menebak kans harga CPO naik lagi tetap ada. “Selama bertahan di atas level RM 2.200 per metrik ton tren bullish tetap terjaga namun terbatas,” perkiraan Wahyu. Sebab sampai saat ini masih sulit bagi harga CPO untuk menembus level US$ 3.000 per metrik ton yang merupakan level resistance kuatnya.

------------------------------------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------------------------------------------

DAILY STOCKPICK
16 AGUSTUS 2016


SWING TRADE
1-4 MINGGU



BMRI
Buy: Rp11,175-Rp11,200
Take Profit:11,675
Cut Loss: Rp10,850




JPFA
Buy On Breakout: Rp1,565-Rp1,570
Take Profi: 1,680
Cut Loss: Rp1,560


LSIP
Buy: Rp1,515
Take Profi: 1,620
Cut Loss: Rp1,450

  -------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------

FAST TRADE
1-2 HARI 

BBKP: Rp675-Rp680
MYRXRp169-Rp170
PPRO: Rp780-Rp782




Take Profit: 4%-5%
Cut Loss: 2%

!Gunakan Maksimal Hanya 20% Dari Total Dana Anda Dalam Melakukan Fast Trade!




"The Biggest Risk is Not Taking The Risk"
-Anonymous-

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------


DISCLAIMER ON:
Segala keputusan investasi kembali ke masing-masing investor dalam pengambilan keputusan. Kami tidak melakukan pemaksaan atas transaksi yang dilakukan investor dan tidak bertanggung jawab atas segala kerugian.
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Follow us on Twitter: @Republik_Invest
Join Our Group on Whatsapp for Live Trade Guidance
 085781739301

Post a Comment

 
Top