IHSG ditutup melemah 0.24% pada level 5,403 pada Rabu 24 Agustus kemarin dengan sektor Consumer Goods sebagai pemberat IHSG. Foreign flow mulai membukukan net sell sebesar 845.29 Milliar dalam satu hari perdagangan. Hari ini kami memprediksikan IHSG akan bergerak mix cenderung untuk kembali melemah dalam zona sideways resistance 5,438 dan level support 5,351.
Berikut Sektor dan Saham Penggerak IHSG 







Global & Commodities Indices


--------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------------------------------------

HIGHLIGHT NEWS
1. Menanti Pidato Yellen, Bursa AS Berfluktuasi. 

NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat (AS) sedikit berubah, Rabu (24/8) di tengah penantian pidato Gubernur Federal Reserve Janet Yellen pada pertemuan Jackson Hole. Investor mencari petunjuk tentang kapan kenaikan suku bunga bakal dilakukan. Mengutip Bloomberg, indeks S & P 500 turun 0,1 % ke level 2.184,57 pada pukul 09:32 pagi waktu New York, setelah kemarin naik di atas rekor penutupannya pada 15 Agustus lalu. Indeks tersebut telah kehilangan momentum dalam 32 hari tanpa bergerak 1 % di kedua arah, yang terpanjang sejak 2014.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 20,48 poin atau 0,11% ke level 18.526,82. Indeks Nasdaq Composite turun 4,75 poin atau 0,09% ke level 5.255,33. Investor mengalihkan perhatian mereka ke pidato Gubernur The Fed untuk melihat apakah ia akan mendukung komentar terbaru dari pejabat bank sentral lain yang menunjukkan suku bunga bisa naik pada awal bulan depan. Kemungkinan peningkatan pada bulan September telah naik menjadi 28 %, dari sebelumnya 10 % pada bulan lalu, sementara spekulasi pada kenaikan di bulan Desember telah meningkat menjadi 51 % dari sebelumnya 36 % pada akhir bulan Juli.(Kontan)



2. Paket Ekonomi XIII Rilis, IHSG Masih di Zona Merah. 
JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak mampu bangkit dari zona merah perdagangan, Rabu (24/8). Mengacu data RTI, indeks ditutup terkoreksi 0,24% atau 13,148 poin ke level 5.403,992. Tercatat 161 saham bergerak turun, 144 saham bergerak naik, dan 93 saham stagnan. Volume perdagangan hari ini mencapai 12,6 miliar lot saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 7,93 triliun.  
Tujuh indeks sektoral menyeret IHSG. Sektor barang konsumsi memimpin penurunan 1,16%. Sementara, tiga sektor yang menghijau antara lain, aneka industri naik 1,12%, keuangan naik 0,51%, dan agrikultur naik 0,0%. Pelemahan IHSG turut tertekan oleh aksi jual asing yang mencapai Rp 845,284 miliar. Sedangkan, net sell asing di pasar reguler Rp 239,048 miliar.

Saham-saham yang masuk top losers LQ45 antara lain; PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) turun 4,26% ke Rp 3.150, PT Semen Indonesia (persero) Tbk (SMGR) turun 3,48% ke Rp 10.400, dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) turun 3,31% ke Rp 1.755. Saham-saham yang masuk top gainers LQ45 antara lain; PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) naik 9,39% ke Rp 1.980, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) naik 2,55% ke Rp 2.810, dan PT Hanson International Tbk (MYRX) naik 2,48% ke Rp 165.

Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada mengatakan, pelemahan yang terjadi semacam "cooling down" dari pelaku pasar dalam menantikan sentimen berikutnya untuk mengangkat IHSG. "Meredanya sentimen amnesti pajak menjadi perhatian pelaku pasar. Realisasi dana tebusan yang baru Rp 1,04 triliun dari total target Rp 165 triliun belum direspon positif," ucapnya dilansir dari Antara. Padahal hari ini, pemerintah kembali mengumumkan paket kebijakan ekonomi ke-13. Paket ini berisi insentif di sektor properti.(Kontan)

 
3. Kenaikan Cukai Akan Tekan EBITDA Emiten Rokok.

JAKARTA. Pemerintah memiliki wacana untuk menaikkan cukai rokok 10% tahun depan. Hal ini tentunya akan memberikan dampak terhadap emiten rokok seperti PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP). Analis Minna Padi Investama Frederik Rasali bilang, pos keuangan yang paling pertama terkena dampaknya adalah beban pokok khususnya soal ongkos produksi.

Seberapa besar dampaknya, tergantung pada struktur biayanya masing-masing. "Tapi, kenaikan 10% di ongkos itu cukup berat," ujarnya kepada KONTAN, Rabu (24/8). Gambaran sederhananya adalah, misal harga jual rokok Rp 100. Dari harga jual itu, Rp 60 merupakan ongkos produksi. Karena cukai naik 10%, maka ongkos produksinya menjadi Rp 66. Nah, dari kondisi ini, EBITDA (earnings before interest, taxes, depreciation and amortization) produsen rokok setidaknya sudah tergerus sekitar 6%.

Tapi, ini bukan berarti sepenuhnya menjadi sentimen negatif bagi emiten rokok. Analis MNC Asset Management Liyanto Sudarso bilang kenaikan cukai tersebut masih lebih kecil dibanding kenaikan tahun ini sebesar 16%. Di samping itu, pemerintah juga memiliki wacana untuk menurunkan tarif PPH maksimum dari 30% menjadi 17%. Jika wacana ini dikaitkan ke sisi permintaan, maka diperkirakan akan ada kenaikan konsumsi rokok, apalagi seiring dengan semakin bertambahnya disposable income para konsumen. "Jadi, kecil kemungkinan pendapatan emiten rokok akan tergerus, dan semua hal ini membuat saham berbasis rokok masih layak di lirik para investor," ujar Liyanto.(Kontan)


4. Lunasi Utang Jatuh Tempo, MEDC Bakal Right Issue.

JAKARTA. PT Medco Energy International Tbk (MEDC) berencana menggelar aksi right issue bulan depan. Target emiten pertambangan ini mendapatkan dana segar untuk menambah modal sebesar Rp 1,94 triliun. Dalam keterbukaan Perseroan mengumumkan akan melakukan penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) kepada pemegang saham perseroan dengan jumlah maksimal 1,306 miliar saham dengan nilai nominal Rp 100

Penambahan modal akan dilakukan sesuai dengan persetujuan RUPSLB yang akan digelar pada September mendatang. Adapun aksi penambahan modal ini akan berlangsung dalam periode 12 bulan sesuai dengan sesuai dengan ketentuan Pasal 8 ayat (3) POJK 32
Nantinya dana yang diperoleh dari aksi ini sekitar 70% akan digunakan untuk pembayaran sebagian atau seluruh utang yang jatuh tempo. Adapun 30 % akan digunakan untuk belanja modal termasuk belanja modal yang muncul dari akuisisi asset.

sebelumnya rencana aksi right issue ini sudah ingin dilakukan Medco dari bulan Juni lalu. Namun dalam rapat umum pemegang saham, belum menemukan kata sepakat akibat dari jumlah daftar hadir tidak mencapai 2/3 anggota rapat. Adapun semula perusahaan berkeinginan menghimpun dana sebesar Rp 4,65 triliun. Namun pada agenda rapat saat ini hanya ingin mengumpulkan dana Rp 1,94 triliun.(Kontan)



5. Analis: CPO Bisa Tembus ke Level RM2,800.

JAKARTA. Harga minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) masih ditopang sentimen positif dari tingginya angka permintaan. Akan tetapi kondisi global yang tidak stabil masih akan menjadi tantangan bagi harga CPO selanjutnya.
Mengutip Bloomberg, Rabu (24/8) pukul 17.00 WIB, harga CPO kontrak pengiriman November 2016 di Malaysia Derivative Exchange menguat 0,8% RM 2.600 per metrik ton dibanding sehari sebelumnya.

Analis PT Central Capital Futures, Wahyu Tri Wibowo menjelaskan, pergerakan harga CPO memang cukup volatile. CPO telah mencatat penguatan dalam tiga pekan terakhir lantaran didukung oleh kenaikan ekspor Malaysia. Berdasarkan survei kargo Societe Generale de Surveillance (SGS), ekspor CPO Malaysia periode 1 - 20 Agustus naik 27,4% menjadi 1,045 juta ton dibanding periode sama bulan sebelumnya. Ekspor ke India mencatat kenaikan tertinggi yakni 80,3% menjadi 259.290 ton. "Ketatnya angka supply akibat dampak cuaca kering Badai El Nino juga turut membantu mengangkat harga," paparnya.

Namun, harga CPO sempat tertekan di awal pekan akibat terseret penurunan harga minyak mentah. Di samping itu, tingginya angka produksi CPO masih membayangi pergerakan harga. Selanjutnya, CPO kembali bangkit dan menguat dalam dua hari beruntun. "Setelah anjlok, wajar terjadi kenaikan harga yang cukup tajam," lanjut Wahyu. Wahyu menilai, angka supply dan demand saat ini sama kuat. Tetapi secara keseluruhan, kenaikan ekspor yang cukup konsisten menjaga penguatan harga CPO. Apalagi, produksi masih berpeluang tertekan lantaran efek lanjutan dari Badai El Nino.

Salah satu produsen kelapa sawit, Sime Darby Bhd memperkirakan produksi tahun fiskal 2017 akan jatuh 10% lantaran efek El Nino. Badai yang membawa cuaca kering di kawasan Asia Tenggara ini berpotensi menurunkan hasil kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia sehingga menurunkan pasokan CPO global menjadi 2 juta ton tahun ini. Data resmi awal bulan ini pun menunjukkan produksi Malaysia turun 12,7% pada bulan Juli.

Di sisi lain, data ekonomi global masih belum memuaskan dengan angka pertumbuhan yang masih lamban. Tetapi kenaikan harga komoditas telah memberikan optimisme jika kondisi sektor bisnis akan membaik. "Lingkungan yang tidak stabil dan tidak pasti akan tetap menjadi tantangan bagi harga CPO," kata Wahyu. Selama harga CPO masih bertahan di atas RM 2.400 per metrik ton, Wahyu melihat adanya potensi kenaikan harga hingga ke level RM 2.800 tahun ini.(Kontan)


 

------------------------------------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------------------------------------------

DAILY STOCKPICK
25 AGUSTUS 2016


SWING TRADE
1-4 MINGGU



BMTR
Buy: Rp915-Rp935
Take Profit: Rp985-Rp1,000
Cut Loss: Rp890




EXCL
Buy: Rp3,150-3,200
Take Profi: Rp3,500
Cut Loss: Rp3,030



PPRO
Buy: Rp790-Rp805
Take Profi: Rp950
Cut Loss: Rp750

  -------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------

FAST TRADE
1-2 HARI 

MYRX: Rp165
DSFIRp190
MNCN: Rp1980




Take Profit: 4%-5%
Cut Loss: 2%

!Gunakan Maksimal Hanya 20% Dari Total Dana Anda Dalam Melakukan Fast Trade!




"The Biggest Risk is Not Taking The Risk"
-Anonymous-

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------


DISCLAIMER ON:
Segala keputusan investasi kembali ke masing-masing investor dalam pengambilan keputusan. Kami tidak melakukan pemaksaan atas transaksi yang dilakukan investor dan tidak bertanggung jawab atas segala kerugian.
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Follow us on Twitter: @Republik_Invest
Join Our Group on Whatsapp for Live Trade Guidance
 085781739301

Post a Comment

 
Top