Dengan sektor Aneka Industri dan Properti sebagai motor penggerak, IHSG ditutup menguat pada perdagangan 8 Agustus 2016 sebesar 0.71% pada level 5,458. Asing masih membukukan beli bersih sebesar 688 Milliar. Hari ini kami memprediksikan IHSG akan tertekan aksi proit taking dan bergerak mix dengan level support 5,423 dan resistance 5,500.
Berikut saham dan sektor penggerak 8 Agustus kemarin
Global & Commodities Indices
--------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Berikut saham dan sektor penggerak 8 Agustus kemarin
Global & Commodities Indices
--------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
HIGHLIGHT NEWS
- 1. Rupiah Masih Bisa Jaga Tren Bullish.
- JAKARTA. Meski secara harian mencatatkan pelemahan namun otot rupiah untuk terus pertahankan penguatan di hadapan dollar AS diprediksi bisa terus berlanjut hingga akhir tahun.Di pasar spot, Senin (8/8) valuasi rupiah terkikis 0,05% di level Rp 13.124 per dollar AS dibanding hari sebelumnya, namun sejak akhir tahun lalu posisi sudah terbang 4,81%. Sejalan di kurs tengah Bank Indonesia posisi rupiah tergerus 0,14% di level Rp 13.144 per dollar AS dengan penguatan year to date sebesar 4,71%.
- Menilai pergerakan positif selama tujuh bulan terakhir ini Eric Sugandi, Chief Economist Standard Chartered Bank mengatakan terjadi karena sajian data fundamental dan iklim ekonomi domestik yang mengkilap.Terbaru dukungan datang dari data pertumbuhan ekonomi kuartal dua 2016 yang tumbuh menjadi 5,18%. Belum lagi cadangan devisa Juli 2016 yang bertambah menjadi US$ 111,4 miliar serta inflasi yang terjaga di level 0,69% dan itu merupakan level terendahnya dalam lima tahun terakhir.“Tidak hanya itu saja, masih ada sentimen dari tax amnesty dan kembalinya Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan juga terus menyuntikkan tenaga bagi rupiah,” ungkap Eric. Efeknya terlihat dari arus dana asing yang tinggi masuk ke pasar tanah air sejak awal tahun 2016 lalu.Berkaca dari keadaan ini Eric menduga hingga akhir tahun 2016 rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp 12.800 – Rp 13.300 per dollar AS. Katalis terdekat yang bisa menjaga penguatan rupiah adalah hasil serapan dana dari kebijakan tax amnesty yang dilaksanakan.(Kontan)
2. WSKT Kantongi Kontrak Baru Proyek LRT Rp11,1 T.
JAKARTA. Emiten konstruksi pelat merah, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) telah mengantongi kontrak baru dari proyek LRT Palembang sebesar Rp 11,1 triliun . Nilai proyek yang ditargetkan beroperai pada Juni 2018 tersebut di luar dari Pajak Pertambahan Nilai (PPn).
Nyoman Wirya Adnyana, Direktur operasional WSKT mengatakan proyek tersebut akan dikebut pengerjaannya agar bisa selesai lebih awal dari target yang ditetapkan. "Tantangan proyek ini tidak terlalu banyak karena pembebasan lahan tidak banyak. Karena proyek itu ada di median," katanya pada KONTAN baru-baru ini.
Ia mengaku, perkembangan pembangunan proyek LRT sepanjang 24 kilometer (km) tersebut sudah mencapai 20%. Proyek tersebut dikerjakan secara paralel dengan pembebasan lahan.
Dengan tambahan kontrak proyek LRT tersebut maka total kontrak baru yang telah diperoleh perseroan hingga minggu ketiga Juli mencapai Rp 45,6 triliun atau 69% dari target tahun ini yakni Rp 66 triliun. Sehingga total nilai kontrak yang dikelola emiten BUMN ini saat ini mencapai Rp 79,6 triliun.
Muhammada Choliq, Direktur Utama WSKT mengatakan sekitar 70% kontrak baru yang telah diperoleh tersebut berasal dari proyek internal WSKT seperti dari ruas-ruas tol.
Sementara proyek eksternal menyumbang 30% yang sebagian besar dari proyek pemerintah dan BUMN. "Swasta hanya di bawah 1%. Padahal tahun lalu porsinya mencapai 40%." katanya.(Kontan)
3. Bursa AS Berluktuasi Didekat Level Tertinggi.
NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat (AS) berfluktuasi pasca reli akhir pekan lalu mendorong indeks S & P 500 menyentuh rekor dan membuat nilai ekuitas berada di level tertinggi kurun waktu 7 tahun terakhir, Senin (8/8).
Pelaku pasar khawatir laju penguatan akan sulit berlanjut seiring perusahaan merasakan penurunan laba kuartalan kelima berturut-turut.
Indeks S & P 500 menguat 0,1 % ke level 2.184,33 pukul 09:34 pagi waktu New York, setelah reli ke level puncak terbaru pada hari Jumat di tengah data pekerjaan yang lebih baik dari perkiraan.
Nasdaq Composite Index juga menyentuh rekor tertinggi untuk pertama kalinya dalam satu tahun, dengan indeks itu ditutup dengan kenaikan mingguan beruntun terpanjang sejak November di tengah musim pendapatan yang kuat untuk saham teknologi.
Kepercayaan dalam perekonomian AS tumbuh menyusul rilis data payrolls AS yang mengalahkan perkiraan untuk bulan kedua di bulan Juli.(Kontan)
4. The Global Economy is Slow But Steadier Than Ever.
It’s not difficult to come to the conclusion that, economically speaking, we are living in very turbulent times. China’s great slowdown. Europe’s persistent woes. Brexit.
Yet on a bigger scale, all that’s just noise blocking the signal that the global economy is less volatile than any period in the modern era. This is the conclusion of new research led by David Hensley, director of global economics at JPMorgan Chase & Co. in New York.
Hensley’s work measures standard deviations of quarterly, annualized gross domestic product growth for major developed and emerging markets, plus a selection of regions. The sample compares the middle of the business cycle leading up to the Great Recession with the middle of the next cycle, i.e 2013 to 2016.
The findings show that whereas some big economies, like the U.S. and Japan are marginally more volatile now than they were during the admittedly very calm “Great Moderation,” others are much less so. The net effect is a global growth pattern less bumpy than any time since 1970.
Hensley says the fact that emerging markets and developed ones now march less in lockstep than in the past helps “cancel out” some of the signals coming from individual economies. But there’s another calming factor: central banks. The U.S. Federal Reserve, the European Central Bank and the Bank of Japan have all found themselves shifting policy in response to risks coming from abroad. From once being purely domestic inflation targeters, they're now global risk managers.
“The mindset is that the level of activity is so far below what they desire, so they’re more mindful of risks of all sorts,” Hensley said. “Central bank policy has helped generate this outcome." (Bloomberg)
------------------------------------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------------------------------------------
DAILY STOCKPICK
9 AGUSTUS 2016
SWING TRADE
GJTL
Buy: Rp1,535
Take Profit: Rp1,645
Cut Loss: Rp1,460
-------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------
FAST TRADE
1-2 HARI
DMAS: Rp286-Rp290
BKSL: Rp106-Rp107
BEST: Rp382-Rp384
BSDE: Rp2,220-Rp2,230
Buy: Rp1,535
Take Profit: Rp1,645
Cut Loss: Rp1,460
MEDC
Buy: Rp1,765-Rp1,785
Take Profit: Rp1,885-Rp1,895
Cut Loss: Rp1,705-Rp1,715
Buy: Rp1,765-Rp1,785
Take Profit: Rp1,885-Rp1,895
Cut Loss: Rp1,705-Rp1,715
-------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------
FAST TRADE
1-2 HARI
DMAS: Rp286-Rp290
BKSL: Rp106-Rp107
BEST: Rp382-Rp384
BSDE: Rp2,220-Rp2,230
Take Profit: 4%-5%
Cut Loss: 2%
!Gunakan Maksimal Hanya 20% Dari Total Dana Anda Dalam Melakukan Fast Trade!
"The Biggest Risk is Not Taking The Risk"
-Anonymous-
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------
Cut Loss: 2%
!Gunakan Maksimal Hanya 20% Dari Total Dana Anda Dalam Melakukan Fast Trade!
"The Biggest Risk is Not Taking The Risk"
-Anonymous-
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------
DISCLAIMER ON:
Segala keputusan investasi kembali ke masing-masing investor dalam pengambilan keputusan. Kami tidak melakukan pemaksaan atas transaksi yang dilakukan investor dan tidak bertanggung jawab atas segala kerugian.
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Follow us on Twitter: @Republik_Invest
Join Our Group on Whatsapp for Live Trade Guidance
085781739301
Post a Comment